Rabu, 13 Desember 2017

MAKALAH MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL MELALUI AL-QUR’AN

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna (Q.S. At-Tin: 5). Secara fisik, manusia memiliki struktur tubuh yang sangat sempurna, ditambah lagi dengan pemberian akal, maka ia adalah makhluk jasadiyah dan ruhaniyah.  Akal yang dianugrahkan kepada manusia memiliki tingkatan kecerdasan yang berbeda-beda.
Banyak orang meyakini bahwa orang yang cerdas adalah orang yang memiliki kemampuan Intelligence Quotient (IQ) yang tinggi, namun pada kenyataannya, tidak semua orang yang memiliki kemampuan IQ yang tinggi itu memiliki kemampuan adaptasi, sosialisi, pengendalian emosi, dan kemampuan spiritual. Banyak orang yang memiliki kecerdasan IQ, namun ia tidak memiliki kemampuan untuk bergaul, bersosialisai dan membangun komunikasi yang baik dengan orang lain. Banyak juga orang yang memiliki kemampuan IQ, tapi ia tidak memiliki kecerdasan dalam melakukan hal-hal yang dapat menentukan kebehasilannya di masa depan, prioritas-prioritas apa yang mesti dilakukan untuk menuju sukses dirinya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian Kecerdasan Emosional ?
2.      Apa Tujuan Lembaga Pendidikan ?
3.      Bagaimana Cara Al-Qur'an Sebagai Solusi dalam Membangun Kecerdasan Emosional Siswa ?
4.      Apa Peran Orang Tua dan Guru dalam Membangun EQ pada diri Siswa ?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui Pengertian Kecerdasan Emosional
2.      Untuk mengetahui Tujuan Lembaga Pendidikan
3.      Untuk mengetahui Cara Al-Qur'an Sebagai Solusi dalam Membangun Kecerdasan Emosional Siswa
4.      Untuk mengetahui Peran Orang Tua dan Guru dalam Membangun EQ pada diri Siswa




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Kecerdasan Emosional
Kecerdasan emosional (bahasa Inggris: emotional quotient, disingkat EQ) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya.[1] Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan. [2] Sedangkan, kecerdasan (intelijen) mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang valid akan suatu hubungan.[2] Kecerdasan emosional (EQ) belakangan ini dinilai tidak kalah penting dengan kecerdasan intelektual (IQ).[1] Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan seseorang.
Menurut Howard Gardner (1983) terdapat lima pokok utama dari kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri.
B.     Tujuan Lembaga Pendidikan
Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang bertujuan mengembangkan kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan intelektual pada diri pelajar. Sehingga membentuk karakter bangsa yang taat kepada agama, berakhlak mulia, dan berwawasan luas. Pengertian pendidikan yang tertera dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[1][1] Berdasarkan hal tersebut jelas bahwa tujuan pendidikan nasional mengedepankan pentingnya kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional dan berwawasan luas dalam kehidupan rakyat Indonesia. Dalam bahasan ini, penulis akan membahas tentang bagaimana pentingnya memiliki kecerdasan emosional. 

C.    Al-Qur'an Sebagai Solusi dalam Membangun Kecerdasan Emosional Siswa
Kecakapan emosional mencakup pengendalian diri, semangat, dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri. Kecerdasan emosional dapat diajarkan dan akan memberikan peluang yang lebih baik dalam memanfaatkan potensi intelektual. Kecerdasan emosional sangat diperlukan untuk menanggulangi tumbuhnya sifat mementingkan diri sendiri, mengutamakan tindak kekerasan, dan sifat-sifat jahat yang lain. Orang yang memiliki kecerdasan emosional dapat mengendalikan diri, memiliki kontrol moral, memiliki kemauan yang baik, dapat berempati (mampu membaca perasaan orang lain), serta peka terhadap kebutuhan dan penderitaan orang lain sehingga memiliki karakter (watak) terpuji dan membangun hubungan antar pribadi yang lebih harmonis.[2][2] Di dalam kitab suci Al-Qur’an, Allah SWT memerintahkan kita untuk senantiasa bersabar supaya kita mendapatkan pertolongan dari-Nya. Sifat sabar berkaitan dengan kecerdasan emosional. Maka perintah sabar yang tertera dalam kitab suci Al-Qur’an merupakan pembelajaran bagi manusia agar mereka dapat mengembangkan kercerdasan emosionalnya. Allah SWT berfirman:
Artinya: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',” (Q.S. Al-Baqarah: 45)
Mintalah pertolongan kepada Allah, untuk menghilangkan sifat-sifat pemalsuan, takabbur, dan keras hati kamu.[3][3]
Allah SWT berfirman dalam ayat lain yang berkaitan dengan kata sabar yang berhubungan dengan moral dan etika. Adapun moral dan etika yang baik adalah ciri dari kecerdasan emosional. Bunyi ayat Al-Qur’an tersebut yaitu:
Artinya: “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang Itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)”.(QS.Ar-Rad:22)
Ayat di atas menunjukkan bahwa ajaran moral dan etika dalam Islam memiliki kekhasan bersumber dari Allah subhanahu wa ta’ala. Atau dengan kata lain memiliki sibgah rabbaniyyah (celupan warna ketuhanan), baik dari segi sumbernya maupun tujuannya. Sumbernya adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala, dan tujuannya adalah mencapai keridaan-Nya.
Sabar adalah upaya menahan diri berdasarkan tuntutan akal dan agama, atau menahan diri dari segala sesuatu yang harus ditahan menurut pertimbangan akal dan agama. Dengan demikian sabar adalah kata yang memiliki makna umum. Namanya bisa beragam sesuai perbedaan obyeknya. Jika menahan diri dalam keadaan mendapat musibah disebut sabar, kebalikannya adalah al-jaza’u (sedih dan keluh kesah).[4][4]
Kedua ayat di atas mengandung pelajaran tentang bagaimana cara mengembangkan kecerdasan emosional. Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa dengan sabar dan shalat akan menghilangkan sifat-sifat pemalsuan, takabbur, dan keras hati. Sedangkan penjelasan dari ayat yang lainnya menerangkan bahwa sabar merupakan upaya menahan diri dari segala sesuatu yang harus ditahan menurut pertimbangan akal dan agama. Dari keterangan tersebut dapat diartikan bahwa sifat sabar merupakan salah satu cara yang tepat untuk mengembangkan kecerdasan emosional dalam diri seseorang.
Adapun membangun kecerdasan emosional siswa berarti bertujuan membangun kesadaran dan pengetahuan anak dalam upaya mengembangkan kemampuan nilai-nilai moral dalam dirinya. Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional akan mampu mengatasi beban hidup yang berat menjadi ringan. Termasuk mampu mengatasi semua kekurangan, stres, dan depresi. Kecerdasan emosional membimbing dan menciptakan motivasi untuk menjalani berbagai aktivitas sehingga terbentuk pribadi yang tangguh secara mental dan fisik, yang siap berjuang untuk meraih prestasi terbaik di dalam hidupnya.
Sedangkan tanpa kesadaran emosi, tanpa kemampuan untuk mengenali dan menilai perasaan serta bertindak jujur menurut perasaan tersebut, kita tidak dapat bergaul secara baik dengan orang lain, tidak dapat membuat keputusan dengan mudah, dan sering terombang-ambing, dan tidak menyadari diri sendiri.[5][5] 
Kenakalan pelajar adalah sebagian contoh dari kurangnya kecerdasan emosional pada diri mereka. Masalah lain yang muncul ialah bertalian dengan perilaku sosial, moralitas, dan keagamaan misalnya: 1). Keterikatan hidup dalam gang (peers group) yang tidak terbimbing mudah menimbulkan juvenile deliquency (kenakalan remaja) yang berbentuk perkelahian antar kelompok, pencurian, perampokan, prostitusi, dan bentuk-bentuk perilaku antisosial lainnya 2). Konflik dengan orang tua, yang mungkin berakibat tidak senang di rumah, bahkan minggat (melarikan diri dari rumah) 3). Melakukan perbuatan-perbuatan yang justru bertentangan dengan norma masyarakat atau agamanya, seperti menghisap ganja, narkotika, dan sebagainya.[6][6] Dari masalah ini, peran orang tua dan guru sangat penting dalam pembentukan karakter yang baik kepada anak agar perilaku buruk tersebut tidak terjadi pada diri mereka.
D.    Peran Orang Tua dan Guru dalam Membangun EQ pada diri Siswa
Orang tua merupakan pendidikan utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.[7][7] Selain pendidikan pertama bagi anak-anaknya, orang tua juga adalah teladan pertama yang menjadi contoh bagi anak-anak mereka. Keteladanan yang baik membawa kesan positif dalam jiwa anak. Orang yang paling banyak diikuti oleh anak adalah orang tuanya. Mereka pulalah yang paling kuat menanamkan pengaruhnya ke dalam jiwa anak.[8][8]
Apabila orang tua tidak mendidik anak dengan baik maka akan berakibat buruk bagi psikologi anak. Beberapa kesalahan dalam mendidik anak di antarnya terlalu royal membelikan hadiah kepada anak, terlalu menuntut, terlalu membebani anak dengan masalah yang belum tepat pada usianya, tidak ada waktu untuk mereka, membanding-bandingkan anak, berperilaku yang tidak selayaknya di hadapan anak, dan kurang bisa menahan emosi di hadapan anak. Dampak atau akibat yang ditimbulkan dari kesalahan orang tua dalam mendidik anak adalah mereka menjadi anak yang manja, tidak dapat mengembangkan potensi dirinya karena tuntutan orang tua yang berlebihan, tidak dapat menyelesaikan permasalah diri sendiri, tidak dapat mengatur waktu dengan baik, pilih-kasih dalam bergaul, dan tidak mampu mengelola emosi mereka dengan baik.
Selain orang tua, sekolah juga berperan dalam mencerdaskan emosional anak. Seperti yang dijelaskan di atas, sekolah memiliki tujuan yaitu mengedepankan pentingnya kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional dan berwawasan luas dalam kehidupan rakyat Indonesia. Di dalam lingkungan sekolah, terdapat tenaga pendidik yang bertugas membimbing emosional siswa supaya mereka mampu menjadi manusia yang cerdas secara emosional. Guru yang memiliki peran penting dalam mengembangkan kecerdasan emosional siswa adalah guru Pendidikan Agama Islam.
Guru pendidikan agama Islam berperan dalam pengembangan kecerdasan emosional pada diri anak. Peranan guru dalam pengembangan kecerdasan emosional (EQ) adalah sebagai perencana, model, motivator, fasilitator dan evaluator. Sebagai pengajar guru membantu siswa agar mampu mengenal dan memahami emosi yang dialami, mengelola emosi yang dialami, memotivasi diri, memahami emosi teman-temannya atau orang lain dan mengembangkan hubungan dengan teman-temannya atau dengan orang lain.






























BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kecerdasan emosional (bahasa Inggris: emotional quotient, disingkat EQ) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya.[1] Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan. [2] Sedangkan, kecerdasan (intelijen) mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang valid akan suatu hubungan.[2] Kecerdasan emosional (EQ) belakangan ini dinilai tidak kalah penting dengan kecerdasan intelektual (IQ).[1] Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan seseorang.
Tujuan pendidikan nasional mengedepankan pentingnya kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional dan berwawasan luas dalam kehidupan rakyat Indonesia.
Adapun membangun kecerdasan emosional siswa berarti bertujuan membangun kesadaran dan pengetahuan anak dalam upaya mengembangkan kemampuan nilai-nilai moral dalam dirinya. Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional akan mampu mengatasi beban hidup yang berat menjadi ringan. Termasuk mampu mengatasi semua kekurangan, stres, dan depresi. Kecerdasan emosional membimbing dan menciptakan motivasi untuk menjalani berbagai aktivitas sehingga terbentuk pribadi yang tangguh secara mental dan fisik, yang siap berjuang untuk meraih prestasi terbaik di dalam hidupnya.











DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Kecerdasan_emosional
http://kecerdasaneq.blogspot.co.id/



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................
DAFTAR ISI......................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................
A.    Latar Belakang.............................................................................................................
B.     Rumusan Masalah........................................................................................................
C.    Tujuan...........................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................
A.    Pengertian Kecerdasan Emosional ............................................................................
B.     Tujuan Lembaga Pendidikan ....................................................................................
C.    Al-Qur'an Sebagai Solusi dalam Membangun Kecerdasan Emosional Siswa .......
D.    Peran Orang Tua dan Guru dalam Membangun EQ pada diri Siswa ..................
BAB III PENUTUP...........................................................................................................
A.    Kesimpulan...................................................................................................................
DAFATAR PUTAKA.......................................................................................................


















KATA PENGANTAR

Sembah sujud penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena anugerah dan rahmat-Nya jualah sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Dalam penyusunan makalah ini, penulis telah berusaha semaksimal mungkin, yang mana telah memakan waktu dan pengorbanan yang tak ternilai dari semua pihak yang memberikan bantuannya, yang secara langsung merupakan suatu dorongan yang positif bagi penulis ketika menghadapi hambatan-hambatan dalam menghimpun bahan materi untuk menyusun makalah ini.
Namun penulis menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, baik dari segi penyajian materinya maupun dari segi bahasanya. Karena itu saran dan kritik yang bersifat konstruktif senantiasa penulis harapkan demi untuk melengkapi dan menyempurnakan makalah ini.






















MAKALAH
MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL
MELALUI AL-QUR’AN
Dosen Pengampu : Wawan Kurnia, M.Pd
 









DISUSUN OLEH :
NAMA KELOMPOK :

1.  ANDRIYANI
2.  JULIANA
3.  LILIK RUKMARDIANTI
4.  SAIDAH
5.  MARYUNI

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIAYAH
NAHDLATUL ULAMA (STITNU)
ALMAHSUNI DANGER
TP. 2017 / 2018



[1][1] Eneng Muslihah, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Diadit Media, 2011), h.  2
[2][2] Darmiyati Zuchdi, Humanisasi Pendidikan (Jakarta: Bumi Askara, 2009), h. 112
[3][3] Al-Hassan, Tafsir Al-Furqan (Jakarta: Dewan Da’wah 1987) Cet.1. h.13
[4][4] Ar-Rāgib Al-Asfānī, Mufradāt Garībil-Qur’an, (Beirut: Dārul-Fikr, t.th), h. 273
[5][5] Jeanne Segal, Meningkatkan Kecerdasan Emosional (Jakarta: Cipta Askara), h. 2
[6][6] Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Kependidikan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya), h. 137
[7][7] Eneng Muslihah, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Diadit Media, 2011), h. 88
[8][8] Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid, Cara Nabi Mendidik Anak (Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat, 2006), h. 57

Selasa, 07 November 2017

MAKALAH PERKEMBANGAN ORGANISASI PERGERAKAN NASIONAL



MAKALAH SEJARAH  INDONESIA WAJIB
PERKEMBANGAN ORGANISASI PERGERAKAN NASIONAL
Guru Mata Pelajaran : HANIF ISTIQLAL, S.Pd


Hasil gambar untuk MUHAMMADIYAH

KELOMPOK V
Nama Anggota:

1.      IRA APRIA IRMA
2.      MAULIDA AZIZAH
3.      LULUK ILMAKNUN
4.      ARIO KURNIAWAN


Kelas : XI IPS

SMA MUHAMMADIYAH MASBAGIK
2017



KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur penulis ucapkan tidak putus-putusnya kepada Allah swt., karena berkat rahmat dan karunianya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Makalah ini merupakan salah satu tugas Sejarah wajib yang berjudul: Perkembangan Organisasi Pergerakan Nasional Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan organisasi pergerakan nasional dan dapat dijadikan referensi pembuatan makalah dalam bidang yang sama.
Penulis menyadari bahwa dalam Makalah ini masih terdapat kekurangan dan kelemahan sehingga jauh dari kata sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak demi kesempurnaan penyusunan makalah ini.
Semoga Makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumber informasi dan inspirasi bagi semua pihak, terutama bagi generasi muda. Aamiin.













  




DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR………………………………………………….   
DAFTAR ISI……………………………………………………………    
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang…………………………………………………....
B.     Rumusan Masalah………………………………………………...            
C.    Tujuan Makalah…………………………………………………..            
D.    Manfaat Makalah………………………………………………….           
BAB II PEMBAHASAN
A.    Karakteristik Perjuangan Bangsa Indonesia Melawan Kolonialisme
             setelah tahun 1908 ......................................................................... 
B.     Faktor Pendorong Pergerakan Nasional .........................................
1.      Faktor Internal .......................................................................   
2.      Faktor Eksternal ....................................................................   
C.    Perkembangan Pergerakan Nasional Indonesia..............................         
1.      Periode Awal Perkembangan ................................................  
2.      Periode Nasional Politik ........................................................   
3.      Periode Radikal .....................................................................    
4.      Periode Bertahan ...................................................................               
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan ....................................................................................              
B.     Kritik dan Saran .............................................................................
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................            


           



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pergerakan nasional lahir dari penderitaan rakyat. Bangsa Indonesia terbelakang disemua bidang. Mereka miskin, ekonominya dikuasai bangsa asing. Pendidikan Indonesia pun tertinggal,  sebahagian besar rakyat masih buta huruf. Jumlah sekolah lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk yang relatif banyak. Lagi pula tidak semua orang bebas memasuki sekolah. Rakyat biasa hanya bisa memasuki sekolah rendah pribumi. Murid-murid hanya diajar sekedar membaca, menulis dan berhitung, setelah tamat mereka hanya diangkat sebagai pegawai rendah dengan gaji yang kecil atau sedikit.
Pendidikan yang memakai sistem barat hanya boleh diikuti oleh anak pegawai yang bergaji besar atau banyak, anak bangsawan atau anak orang kaya. Rakyat tidak mempunyai tempat untuk mengadu nasib. Penguasa-penguasa pribumi tidak berkuasa lagi. Raja-raja dan para Bupati hanya memerintah sesuai kehendak Belanda. Bahkan, banyak diantaranya dijadikan alat untuk menindas rakyat. Dalam keadaan seperti itu, golongan pelajar tampil kemuka. Mereka adalah orang-orang Indonesia yang mendapat pendidikan Barat. Mereka mempelopori dan memimpin pergerakan nasional. Mereka berjuang di berbagai bidang, ada yang berjuang di bidang politik, ekonomi, maupun di bidang pendidikan.
Tujuan perjuangan itu satu, yaitu mencapai kemerdekaanbangsa dan tanah air.Peristiwa-peristiwa di dalam negeri berpengaruh pula terhadap Pergerakan Nasional. Peristiwa itu antara lain kemenangan Jepang dalam perang melawan rusia pada tahun 1905, Jepang bangsa Asia sedangkan Rusia bangsa Eropa(barat). Kemenangan Jepang itu membuktikan bahwa bangsa Asia bisa mengalahkan bangsa Eropa. Revolusi cina dan gerakan nsional India dan Filipina, mempengaruhi juga pergerakan nasional.
Revolsi Cina meletus pada tahun 1911. Golongan nasionalis Cina berhasil mengalahkan Dinasti Manchu yang sudah lama menguasai negeri Cina. Dinasti Manchu bukan orang cina asli.Di India terjadi gerakan nasional menentang penjajahan Inggris. Pemimipin terkemuka India adalah Mahatma Gandhi.Di Filipina terjadi pula gerakan nasional menentang penjajahan Spanyol.
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan penulis, maka penulis tertarik untuk membuat makalah yang berjudul: “Organisasi Pergerakan Nasional Sebagai Sarana Perjuangan Melawan Kolonialisme di Indonesia”
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1.   Bagaimanakah karakteristik perjuangan Bangsa Indonesia melawan kolonialisme setelah tahun 1908 ?
2.   Apakah faktor pendorong lahirnya Pergerakan Nasional Indonesia ?
3.   Bagaimanakah perkembangan Pergerakan Nasional Indonesia ?
C.    Tujuan Makalah
Berdasarkan permasalahan yang telah di rumuskan, maka tujuan pembuatan makalah ini adalah :
1.      Menjelaskan karakteristik perjuangan Bangsa Indonesia melawan kolonialisme setelah tahun 1908
2.      Menjelaskan faktor pendorong lahirnya Pergerakan Nasional Indonesia
3.      Menjelaskan perkembangan Pergerakan Nasional Indonesia















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Karakteristik perjuangan Bangsa Indonesia Melawan Kolonialisme setelah tahun 1908
1.      Dipimpin dan digerakkan oleh kaum terpelajar
Salah satu kebijakan pemerintah kolonial yang pernah dilakukan di negri kita adalah pelaksanaan politik etis atau politik balas budi yang dicetuskan oleh Conrad Theodore Van Deventer dengan triloginya, yaitu :
a.       Irigasi
b.      Imigrasi
c.       Edukasi
Dalam pelaksanaan politik  etis bidang pendidikan dilaksanakan bukan untuk kepentingan mencedrdaskan kehidupan bangsa Indonesia, melainkan untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga tenaga terdidik untuk dipekerjakan dibidang administrasi murahan. Dengan  banyak berdirinya sekolah sekolah untuk golongan pribumi, maka secara perlahan tapi pasti mulailah muncul bibit bibit kaum terpelajar di Indonesia yang makin lama makin banyak jumlahnya, hal ini merupakan salah satu dampak positif pelaksanaan politik etis. Karena dengan munculnya golongan terpelajar inilah yang nanti mejadi motor penggerak  lahir dan tumbuhnya kesadaran nasiomal di Indonesia.
Tumbuhnya golongan terpelajar sebagai akibat dari perkembangan pendidikan baik yang bercorak barat maupun islam akhirnya membangkitkan suatu kekuatan baru dalam kehidupan bangsa Indonesia. Dari pendidikan yang mereka dapat itulah  mereka akhirnya dapat menemukan kesalahan dalam perjuangan bangsanya dalam mengusir penjajah,  yaitu :
                      a.      Tidak adanya ikatan persatuan dan kesatuan dalam mengusir penjajah, karena mereka berjuang untuk kepentingan daerahnya sendiri-sendiri.
                     b.      Perjuangan yang dilakukan terlalu bergantung pada seorang pemimpin, tidak ada regenerasi
                      c.      Perjuangan yang dilakukan tidak terorganissir dengan baik
                     d.      Perjuangan yang dilakukan tidak memiliki tujuan yang jelas
                      e.      Belajar dari kesalahan masa lampau, akhirnya timbullah kesadaran untuk membentuk orgasisasi perjuangan yang teratur agar tujuan  perjuangan dapat segera terwujud.
B.     Faktor Pendorong Pergerakan Nasional Indonesia
1.      Faktor Internal
a.    Sejarah Masa lampau yang gemilang
Indonesia sebagai bangsa telah mengalami zaman nasional pada masa kebesaran Majapahit dan Sriwijaya.kedua kerajaan tersebut,terutama majapahit memainkan peranan sebagai negara nasional yang wilayahnya meliputi hampir seluruh Nusantara. Kebesaran ini membawa pikiran dan angan-angan bangsa Indonesia untuk dapat menikmati kebesaran itu. Hal ini dapat menggugah perasaan nasoinalisme golongan terpelajar pada dekade awal abad XX.
b.   Penderiataan rakyat akibat penjajah.
Bangsa Indonesia mengalami masa penjajahan yang panjang dan menyakitkan sejak masa Portugis.Politik devide et impera,monopoli perdagangan,sistem tanam paksa,dan kerja rodi merupakan bencana bagi rakyat indonesia.penderitaan itu menjadikan rakyat Indonesia muncul kesadaran nasionalnya dan mulai memahami perlunya menggalang persatuan.Atas praksara para kaum intelektual,persatuan itu dapat diwujudkan dalam bentuk perjuangan yang bersifat modern.perjuangan tidak lagi menggunakan kekuatan senjata tetapi menggunakan organisasi pemudah.
c.    Pengaruh perkembangan pendidikan barat di Indonesia.
Perkembangan sistem pendidikan dimasa Hindia Belanda tidak dapat dipisahkan dari politik etis. Ini berarti bahwa terjadinya perubahan di negeri jajahan (Indonesia) banyak dipengaruhi oleh keadaan yang terjadi di negeri Belanda. Tekanan datang dari Partai Sosial Demokrat yang di dalamnya ada van Deventer.
d.   Pengaruh perkembangan pendidikan Islam di Indonesia.
Perkembangan pendidikan di Indonesia juga masih banyak diwarnai oleh pendidikan yang dikelola umat Islam. Ada 3 macam jenis pendidikan Islam di Indonesia  yaitu pendidikan di surau atau langgar, pesantren dan madrasah. Walaupun dasar pendidikan dan pengajarannya berlandaskan ilmu pengetahuan agama Islam, mata pelajaran umum lainnya juga mulai disentuh. Usaha pemerintah kolonial Belanda untuk memecah belah dan Kristenisasi tidak mampu meruntuhkan moral dan iman para santri. Tokoh-tokoh pergerakan nasional dan pejuang muslim pun bermunculan dari lingkungan ini. Banyak dari mereka menjadi penggerak dan tulang punggung perjuangan kemerdekaan. Rakyat Indonesia yang mayoritas adalah kaum muslim ternyata merupakan salah satu unsur penting untuk menumbuhkan semangat nasionalisme Indonesia. Para  pemimpin nasional bercorak Islam akan sangat mudah umtuk memobilisasi kekuatan Islam dalam membangun kekuatan bangsa.
e.    Pengaruh perkembangan pendidikan kebangsaan di Indonesia.
Berkembangnya sistem pendidikan barat melahirkan golongan terpelajar. Adanya diskriminasi dalam pendidikan kolonial dan tidak adanya kesempatan bagi penduduk pribumi untuk mengenyam pendidikan, mendorong kaum terpelajar untuk mendirikan sekolah untuk kaum pribumi. Sekolah ini juga dikenal sebagai sekolah kebangsaan sebab bertujuan untuk menanamkan rasa nasionalisme di kalangan rakyat dan mencetak generasi penerus yang terpelajar dan sadar akan nasib bangsanya. Selain itu sekolah tersebut terbuka bagi semua masyarakat pribumi dan tidak membedakan dari kalangan manapun. Tokoh-tokoh pribumi yang mendirikan sekolah kebangsaan antara lain Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa, Douwes Dekker mendirikan Kesatrian School, dan Moh.Syafei mendirikan perguruan Indonesische Nederlandsche School Kayu Tanam (INS Kayu Tanam).
2.      Faktor Eksternal
a.      Kemenangan Jepang melawan Rusia dalam perang tahun 1905
Perjalanan sejarah dunia menunjukkan ketika tahun 1904-1905 terjadi peperangan antara Jepang melawan Rusia, yang keluar sebagai pemenang dalam peperangan itu adalah Jepang. Hal ini memberikan semangat juang terhadap para pelopor pergerakan nasional di Indonesia, bahwa tak selamanya orang berkulit putih lebih hebat dari orang berkulit warna.
b.      Adanya pergerakan nasional di negara lain seperti India, Fillipina, Cina, Turki
Ø  Partai Kongres India
Dalam melawan Inggris di India, kaum pergerakan nasional di India membentuk All India National Congress (Partai Kongres India). Di bawah kepemimpinan Mahatma Gandhi, partai ini menetapkan garis perjuangan yang meliputi Swadesi, Ahimsa, Satyagraha, dan Hartal. Keempat ajaran Ghandi ini, terutama Satyagraha mengandung makna yang memberi banyak inspirasi terhadap perjuangan di Indonesia.
Ø  Filipina di bawah Jose Rizal
Tahun 1892, tokoh ternama, Jose Rizal melakukan perlawanan bawah tanah terhadap penindasan Spanyol. Dalam perjuangannya Jose Rizal dihukum mati pada tanggal 30 Desember 1896, setelah gagal dalam pemberontakan Katipunan. Sikap patriotisme dan nasionalisme yang ditunjukkan Jose Rizal membangkitkan semangat rela berkorban bagi para cendekiawan di Indonesia.
Ø  Gerakan Nasionalisme Cina
Munculnya gerakan nasionalisme Cina diawali dengan terjadinya pemberontakan Tai Ping (1850 – 1864) dan kemudian disusul oleh pemberontakan Boxer. Gerakan ini ternyata berimbas semangatnya di tanah air Indonesia.
Ø    Gerakan Turki Muda
Gerakan Turki Muda pada tahun 1908 dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasha. Gerakan Turki Muda memberikan pengaruh politis bagi pergerakan bangsa Indonesia sebab mengarah pada pembaruan-pembaruan dan modernisasi
C.    Perkembangan Pergerakan Nasional Indonesia
1.      Periode Awal Perkembangan
a.       Budi Utomo
Pada tahun 1906 di Yogyakarta dr. Wahidin Sudirohusodo mempunyai gagasan untuk mendirikan studiefonds atau dana pelajar. Tujuannya adalah mengumpulkan dana untuk membiayaai pemuda-pemuda bumi putra yang pandai, tetapi miskin agar dapat memneruskan ke sekolah yang lebih tinggi. Untuk mewujudkan gagasan nya tersebut, beliau mengadakan perjalanan keliling jawa.
Ketika sampai di Jakarta, dr. Wahidin Sudirohusodo bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa STOVIA. STOVIA adalah sekolah untuk mendidik dokterdokter pribumi. Mahasiswa-mahasiswa tersebut antara lain Sutomo, Cipto Mangunkusumo, Gunawan Mangunkusumo, Suraji, dan Gumbrek. Dr. Wahidin Sudirohusodo memberikan dorongan kepada mereka agar membentuk suatu organisasi. Dorongan tersebut mendapat sambutan baik dari para mahasiswa STOVIA.
Pada tanggal 20 Mei 1908 bertempat di Gedung STOVIA. Para mahasiswa STOVIA mendirikan organisasi yang diberi nama Budi Utomo. Budi Utomo artinya budi yang utama. Tanggal berdirinya Budi Utomo yaitu 20 Mei dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Budi Utomo adalah organisasi pergerakan modern yang pertama di Indonesia dengan memiliki struktur organisasi pengurus tetap, anggota, tujuan dan juga rencana kerja dengan aturan-aturan tertentu yang telah ditetapkan. Budi utomo pada saat ini lebih dikenal oleh masyarakat sebagai salah satu STM yang memiliki siswa yang suka tawuran, bikin rusuh, bandel, dan sebagainya. Biasanya anak sekolah tersebut menyebut dengan singkatan Budut / Boedoet (Boedi Oetomo). Pada artikel kali ini yang kita sorot adalah Budi Utomo yang organisasi jaman dulu, bukan yang STM.
Budi Utomo didirikan oleh mahasiswa STOVIA dengan pelopor pendiri Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Sutomo pada tanggal 20 Mei 1908 yang bertujuan untuk memajukan Bangsa Indonesia, meningkatkan martabat bangsa dan membangkitkan Kesadaran Nasional. Tanggal 20 Mei 1908 biasa diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional Indonesia.
Sebagai suatu organisasi yang baik, Budi Utomo memberikan usulan kepada pemerintah Hindia Belanda sebagai mana berikut ini :
·          Meninggikan tingkat pengajaran di sekolah guru baik guru bumi putera maupun sekolah priyayi.
·          Memberi beasiswa bagi orang-orang bumi putera.
·          Menyediakan lebih banyak tempat pada sekolah pertanian.
·          Izin pendirian sekolah desa untuk Budi Utomo.
·          Mengadakan sekolah VAK / kejuruan untuk para bumi putera dan para perempuan.
·          Memelihara tingkat pelajaran di sekolah-sekolah dokter jawa.
·          Mendirikan TK / Taman kanak-kanak untuk bumi putera.
·          Memberikan kesempatan bumi putra untuk mengenyam bangku pendidikan di sekolah rendah eropa atau sekolah Tionghoa - Belanda.
Kongres pertama budi utomo diadakan di Yogyakarta pada oktober 1908 untuk mengkonsolidasikan diri dengan membuat keputusan sebagai berikut :
§  Tidak mengadakan kegiatan politik.
§  Bidang utama adalah pendidikan dan kebudayaan.
§  Terbatas wilayah jawa dan madura.
§  Mengangkat R.T. Tirtokusumo yang menjabat sebagai Bupati Karanganyar sebagai ketua.
Pemerintah Hindia-Belanda mengesahkan Budi Utomo sebagai badan hukum yang sah karena dinilai tidak membahayakan, namun tujuan organisasi Budi Utomo tidak maksimal karena banyak hal, yakni :
1)       Mengalami kesulitan dinansial
2)       Kelurga R.T. Tirtokusumo lebih memperhatikan kepentingan pemerintah kolonial daripada rakyat.
3)       Lebih memajukan pendidikan kaum priyayi dibanding rakyat jelata.
4)       Keluarga anggota-anggota dari golongan mahasiswa dan pelajar.
5)       Bupati-bupati lebih suka mendirikan organisasi masing-masing.
6)       Bahasa belanda lebih menjadi prioritas dibandingkan dengan Bahasa Indonesia.
7)       Pengaruh golongan priyayi yang mementingkan jabatan lebih kuat dibandingkan yang nasionalis.
b.      Sarekat Islam (SI)
Pada awal berdirinya, organisasi ini bernama “Sarekat Dagang Islam”, didirikan oleh Haji Samanhudi pada tahun 1911 dengan tujuan :
1.         memajukan perdagangan Indonesia dibawah panji panji Islam
2.         mengadakan persaingan dengan pedagang pedagang China
Karena sifatnya yang merakyat dan pertumbuhannya yang amat pesat, maka atas usul HOS Cokroaminoto pada tahun 1912 Sarekat Dagang Islam namanya diubah menjadi “Sarekat Islam”. Organisasi Sarekat Islam memiliki tujuan :
1.       mengembangkan jiwa dagang
2.       membantu anggota yang mengalami kesulitan dalam berusaha
3.       memajukan pengajaran dan semua usaha yang mempercepat naiknya derajat rakyat
4.       memperbaiki pendapat pendapat yang keliru mengenai agama islam
5.       hidup menurut perintah agama islam
Sarekat Islam dalam waktu relative singkat berhasil menjadi organisasi masa terbesar di Indonesia saat itu dengan jumlah anggota 800.000 orang yang tersebar dalam 90 Sarekai Islam lokal diseluruh Indonesia. Untuk menghambat Sarekat Islam Belanda senantiasa memantai gerak langkah Sarekat Islam.
Dalam perkembangannya, akibat taktik infiltrasi yang dilakukan oleh Parat Komunis Indonesia (PKI), pada tahun 1917 Sarekat Islam pecah menjadi dua, yaitu :
1.      Sarekat Islam Putih (SI Putih), yaitu Sarekat Islam yang tetap nerlandaskan pada asas perjuangan semula, dipimpin oleh HOS Cokroaminoto, Abdul Muis dan H. Agus Salim.
2.      Sarekat Islam Merah (SI Merah), yaitu Sarekat Islam yang telah terpengaruh oleh paham komunis, dipimpin oleh Semaun, Darsono dan Alimin
c.       Organisasi Keagamaan (Muhammadiyah)
Muhammadiyah adalah organisasi Islam modern yang didirikan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 oleh K.H. Ahmad Dahlan.Muhammadiyah berarti umat Muhammad atau pengikut Muhammad. Dengan nama ini memiliki harapan dapat mencontoh segala jejak perjuangan dan pengabdian Nabi Muhammad. Tujuan yang ingin dicapai adalah:
a.        Memajukan pengajaran berdasarkan agama islam, dan
b.       Memupuk  keimanan dan ketaqwaan para anggotanya.
Dalam rangka mencapai tujuan itu, Muhammadiyah melakukan beberapa upaya berikut:
§  Mendirikan sekolah-sekolah (bukan pondok pesantren) dengan pengajaran agama dan kurikulum yang modern.
§  Mendirikan rumah sakit dengan nama Pusat Kesengsaraan Umum (PKU).
§  Mendirikan rumah yatim piatu.
§  Mendirikan perkumpulan kepanduan Hisbul Wathan.
Dalam perkembangannya, Muhammadiyah menghadapi tantangan dari golongan Islam konservatif. Mereka melihat Muhammadiyah begitu terbuka terhadap kebudayaan Barat sehingga khawatir kemurnian Islam akan dirusakkan. Oleh karena itu para ulama mendirikan Nahdlatul Ulama pada tahun 1926.Gerakan NU dipelopori oleh K.H. Hasyim Asy’ari. Gerakan Muhammadiyah banyak mendapat simpati termasuk pemerintah kolonial Belanda karena perjuangannya tidak bersifat konfrontatif(menentang).
Disamping Muhammadiyah, gerakan keagamaan lain yang memiliki andil bagi kemajuan bangsa antara lain, berikut ini: 
a.        Jong Islamienten Bond, berdiri tanggal 1 Januari 1925 di Jakarta.
b.       Nahdlatul Ulama (NU), berdiri pada tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya, Jawa Timur
c.        Nahdlatul Wathan, berdiri tahun 1932 di Pacor, Lombok Timur.
2.      Periode Nasional Politik
a.        Indische Partij (IP)
Indische Partij berdiri pada tanggal 25 Desember 1912, oleh tokoh “Tiga Serangkai”, yaitu :
1.      Suwardi Suryaningrat (Kihajar Dewantara)
2.      Douwes Dekker (dr.Danudirja Setiabudi)
3.      dr.Tjipto Mangunkusumo
Tujuan dari Indische Partij adalah :
1.       menumbuhkan dan meningkatkan jiwa persatuan semua golongan
2.       memajukan tanah air dengan dilandasi jiwa nasional
3.       mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka
Indische Partij dianggap sebagai “organiasi politik” yang pertama kali berdiri karena organisasi inilah yang pertama kali dengan tegas menyatakan cita citanya mencapai Indonesia merdeka.
Pada tanggal 11 Maret 1913 Indische Partij dinyatakan sebagai organisasi terlarang oleh pemerintah Belanda, karena dianggap membahayakan kepentingan penjajah dan juga karena Belanda merasa malu dengan sindiran Suwardi Suryaningrat yang tertuang dalam tulisan “ALS IKEENS NEDERLANDER WAS” yang berarti “ANDAIKAN AKU SEORANG BELANDA’. Ketiga tokoh tiga serangkai dijatuhi hukuman buang ke negri Belanda dan sejak itu Indische Partij mundur.
b.       Organisasi Pemuda dan Wanita
Perkumpulan pemuda yang pertama berdiri adalah Tri Koro Dharmo. Diprakarsai oleh dr. Satiman Wirjosandjojo, Kadarman, dan Sunardi. Organisasi kepemudaan lainnya banyak bermunculan seperti Pasundan, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Celebes, R.A. Kartini Timorees Ver Bond, PPPI (Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia), Pemuda Indonesia, Jong Islamienten Bond, kepanduan, dan sebagainya. Di samping gerakan para pemuda, kaum wanita juga tidak mau ketinggalan. Pergerakan wanita dipelopori oleh R.A.Kartini dari Jepara dengan mendirikan Sekolah Kartini.
3.      Periode Radikal
1)       Perhimpunanan Indonesia (PI)
Tahun 1908 di Belanda berdiri sebuah organisasi bernama Indische Vereeniging. Pelopor pembentuknya adalah Sutan Kasayangan Soripada dan RM Noto Suroto. Melalui rapat pada 3 Februari 1925 sebuah organisasi bernama Indonesische Vereeniging diganti menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Kegiatan internasional, dunia internasional pun akhirnya mengetahui aktivitas perjuangan para pemuda Indonesia.
2)       Partai Komunis Indonesia (PKI)
Partai Komunis Indonesia (PKI) secara resmi berdiri pada tanggal 23 Mei 1920. Berdirinya PKI tidak terlepas dari ajaran Marxis yang dibawa oleh Sneevliet. Ia bersama teman-temannya seperti Brandsteder, H.W Dekker, dan P. Bergsma, mendirikan Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV) di Semarang pada tanggal 4 Mei 1914. Tokoh-tokoh Indonesia yang bergabung dalam ISDV antara lain Darsono, Semaun, Alimin, dan lain-lain. PKI terus berupaya mendapatkan pengaruh dalam masyarakat. Pada tanggal 13 November 1926, Partai Komunis Indonesia mengadakan pemberontakan di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Pemberontakan ini sia-sia karena organisasinya masih kacau. Walaupun PKI dinyatakan sebagai partai terlarang tetapi secara ilegal mereka masih melakukan kegiatan politiknya. Semaun, Darsono, dan Alimin meneruskan propaganda untuk tetap memperjuangkan aksi revolusioner di Indonesia.
3)       Partai Nasional Indonesia (PNI)
Tujuan PNI adalah mencapai Indonesia merdeka. Untuk mencapai tujuan tersebut, PNI menggunakan tiga asas yaitu self, help, dan nonmendiancy (berjuang dengan usaha sendiri), sikapnya terhadap pemerintah juga antipati dan nonkooperasi. Kongres Partai Nasional Indonesia yang pertama kali diadakan di Surabaya, tanggal 27 – 30 Mei 1928. Peranan PNI dalam pergerakan nasional Indonesia sangat besar. Ketika pengawasan terhadap kegiatan politik dilakukan semakin ketat, berkembanglah desas desus bahwa PNI akan mengadakan pemberontakan, maka empat tokoh PNI yaitu Ir. Soekarno, R. Gatot Mangkuprojo, Markun Sumodiredjo, dan Supriadinata ditangkap dan dijatuhi hukuman oleh pengadilan Bandung. Dalam suatu kongres luar biasa di Jakarta tanggal 25 April 1931, diambil keputusan untuk membubarkan PNI. Mr. Sartono kemudian mendirikan Partindo. Mereka yang tidak setuju dengan pembubaran masuk dalam Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru) yang didirikan oleh Drs. Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir. Baik Partindo maupun PNI Baru, masih memakai asas PNI yang lama yaitu self, help, dan nonkooperasi
4)       Partai Indonesia
Ketika Ir. Soekarno yang menjadi tokoh dalam PNI ditangkap pada tahun 1929, maka PNI pecah menjadi dua yaitu Partindo dan PNI Baru. Partindo didirikan oleh Sartono pada tahun 1929. Dasar Partindo sama dengan PNI yaitu nasional. Tujuannya adalah mencapai Indonesia merdeka. Asasnya pun juga sama yaitu self help dan nonkooperasi. Partindo semakin kuat setelah Ir. Soekarno bergabung ke dalamnya pada tahun 1932, setelah dibebaskan dari penjara. Namun, karena kegiatan-kegiatannya yang sangat radikal menyebabkan pemerintah melakukan pengawasan yang cukup ketat. Karena tidak bisa berkembang, maka tahun 1936 Partindo bubar.
4.      Periode Bertahan
a.        Taman Siswa
Didirikan oleh Ki Hajar Dewantara 3 juli 1922. Ajaran yang terkenal adalah “Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani"
b.       Partai Indonesia Raya
Parindra didirikan di Solo oleh dr. Sutomo tanggal 26 Desember 1935. Tujuan Parindra adalah mencapai Indonesia Raya. Tokoh-tokoh Parindra yang terkenal dalam membela kepentingan rakyat di volksraad adalah Moh. Husni Thamrin. Perjuangan Parindra dalam volksraad cukup berhasil, terbukti pemerintah Belanda mengganti istilah inlandeer menjadi Indonesier.

c.        Gabungan Politik Indonesia
Didirikan oleh Mohammad Husni Thamrin 21 mei 1939. Tiga asas perjuangan GAPI:
1.       Hak untuk menetukan diri sendiri
2.       Persatuan nasional seluruh bangsa Indonesia dengan berdasarkan kerakyatan dalam paham politik, ekonomi, dan sosial
3.       Persatuan aksi seluruh pergerakan Indonesia

























BAB III
KESIMPULAN

A.    Kesimpulan
Pergerakan Nasional Indonesia memiliki pengertian “Pergerakan” disini meliputi segala macam aksi dengan menggunakan “organisasi” untuk menentang penjajahan dan mencapai kemerdekaan. Dengan organisasi ini menunjuk bahwa aksi tersebut disusun secara teratur, dalam arti ada pemimpinnya, anggota, dasar, dan tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan Istilah “Nasional” menunjuk sifat dari pergerakan, yakni semua aksi dengan organisasi yang mencakup semua aspek kehidupan, seperti ekonomi, sosial, politik, budaya, dan kultural.
Dipengaruhi beberapa faktor pendorong Pergerakan Nasional Indonesia baik dari dalam (internal) dan dari luar (eksternal). Adapun organisasi-organisasi yang muncul sebagai pergerakan nasional indonesia (muncul di berbagai periode) adalah:
1.      Periode Awal Perkembangan              -->Budi Utomo, Sarekat Islam dan Muhammadiyah
2.      Periode Nasional Politik -->                    Indische Partij, Organisasi Pemuda dan Perempuan
3.      Periode Radikal -->                                 Perhimpunan Indonesia, Partai Komunis Indonesia
4.      Partai Nasional Indonesia dan  Partai Indonesia
Periode Bertahan -->                           Taman Siswa,  Partai Indonesia Raya
5.      Gabungan Politik Indonesia
B.     Kritik dan Saran
Dalam menyusun makalah ini, kami menyadari banyak kesalahan yang terdapat di dalamnya. Saran dan kritik yang membangun diharapkan demi kesempurnaan makalah ini dikemudian hari.






DAFTAR PUSTAKA

Poesponegoro.M.D dan Nugroho Notosusanto.2008.Sejarah Nasional Indonesia.Jakarta : Balai Pustaka.
Sudiri, P. K. 1993. Sejarah Indonesia Baru Dari Pergerakan Nasio-nal sampai Dekrit Presiden. Malang: IKIP Malang.
Poeponegoro, D. dkk. 1994. Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta; Balai Pustaka.
______, Tonggak Sejarah Perjuangan Nasional, (online), tersedia: 27 Oktober 2011 (http://halamanputih.wordpress.com/tag/pemimpin-pergerakan-pemuda-indonesia/) (30 November 2011)



MAKALAH MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL MELALUI AL-QUR’AN

BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna (Q.S. At-Tin: 5). Secara fisik, ...